COVID -19 Melahirkan BLT !!!!Penjelasan Tentang Bantuan Langsung Tunai (BLT)!!!…..!!!

Dengan Kondisi pandemi Covid 19 ini sangat menggangu dari beberapa aspek kehidupan khususnya ekonomi.masyarakat saat ini dibuat bingung dengan keadaanya karena banyak banget pembatasan sosial atau lebil dikenal dengan Pembatasan Sosial Berskala Besar atau PSBB yang bertujuan untuk mencegah penyebaran virus yang dianggap mematikan ini selain dari pembatasan sosial distacing. Salah satu langkah yang diambil Pemerintah Pusat, Daerah maupun sampai tingkat Desa ialah dengan mengeluarkaan kebijakan yaitu memberikan bantuan secara ekonomi daan sosial dengan cara Bantuan Langsung Tunai (BLT) degan tujuan untuk membantu masyarakat kalangan bawah guna menghadapi dampak dari segi ekonomi terutama nya kehidupan sehari-hari yaitu dengan cara pemberian bantuan langsung tunai atau BLT yang bersumber dari APBN maupun sumber lainnya. Saat ini yang jadi permasalahan ialah mengenai teknik penyaluranya, perihal siapa yang pantas menerima bantuan tersebut sehingga menjadi gejolak pada tingkat bawah antara pemerintah dengan warganya sendiri. Maka dengan ini sedikit saya jelaskan apa sih BLT itu dan dengan rincianny. sebagai berikut :  

  1. Dana BLT 600 ribu/KK slm 3 bulan berasal dari Dana Stimulan Kemensos dan Dana Desa(sesuai Permendes) Porsi jumlah penerima baik dri sumber dana stimulan Kemensos ataupun DD berdasarkan Basis data terpadu Kemensos dan pendataan desa
  2. Tdk semua Kepala keluarga menerima. penerima BLT yg terdampak Covid 19 baik langsung maupun tak langsung(segi kesehatan dan ekonomi).
  3. Penerimaan BLT berdasarkan kriteria yg dikeluarkan pemerintah ada 14 Kriteria,cek aja di google 14 kriteria penerimaan BLT)yg termasuk pada 1,2atau 3 point dari 14 kriteria itu berhak atas BLT.
  4. Penerimaan BLT tdk boleh yang sdh menerima bantuan PKH,BPNT,dan Kartu prakerja.
  5. BLT dalam bentuk dana sesuai namanya ( Bantuan Langsung tunai)bkn dlm bentuk sembako.
  6. Lho kok di Jakarta,di Bengkulu ada bagi2 sembako juga bahkan setiap rumah dpt?(pak, Bu itu bkn BLT yg jadi kebijakan nasional,itu tergantung Kepala daerah,bupati,walikota, gubernur yg mengalokasi kan bantuan lain d luar BLT yg menjadi program nasional,sumbernya dari mana?( Bisa jadi dari APBD, bansos provinsi/ CSR perusahaan).
  7. Tingkat percepatan penyaluran BLT tdk bisa d samakan secara nasional tergantung percepatan pendataan yg objektif disetiap2 kabupaten.
  8. Semua pendataan berbasis komputerisasi dan aplikasi komputer jadi hrs benar penulisan huruf dan angka untuk menghindari data eror, jadi bkn foto Copi kk,ktp lalu bantuan turun semua harus di input di aplikasi komputer(jadi hrp bersabar sebentar sampai data benar2 mutakhir karena yang di salurkan adalah uang negara tentu butuh pertanggung jawaban).
  9. Misal 1200 KK dlm 1 desa tentu tak semua menerima BLT karena paling porsinya hanya 150-200 KK(diluar PkH, BPNT dan kartu prakerja)jadi jgn mudah terprovokasi bahwa semua KK pasti dapat,lebih baik kita yg mampu survive dari kondisi saat ini mensupport semua lapisan aparatur pemerintah agar BLT tersebut cepat tersalurkan dengan tepat sasaran.
  10. Kalo kita baca 14 kriteria penerima BLT, tentu kita yang mampu beli gadget harga 3 juta , kuota 150 rb perbulan, makan masih bisa 3 kali sehari , beras masih mudah kita beli, bensin motor masih bisa kita beli, hasil tani masih ada walaupun tidak seperti dalam kondisi normal adalah bukan dalam kriteria tersebut.
  11. Untuk yang masih mampu baiknya kita ikut membantu ( karena gotong royong itu Indonesia banget) , yang harus di jaga jaraknya adalah fisik , bukan kemanusiaan.
  12. Dipoint terakhir semoga kita bisa saling merenung, kritik yang membangun boleh tapi saling menyalahkan mari kita hindari apalagi menyalahkan dengan cara subjektif atau pakai ego politik jika ada aduan sampaikan dengan cara elegan dan objektif, bukan saling sindir di media sosial sehingga bukan hanya menimbulkan jarak secara fisik saja tapi juga meretakkan silaturahmi antar tetangga dengan pelaksana pemerintah.

Nasehat perenungan :

Saling iri dan dengki dengan bantuan yang turun (ko dia dapet saya kagak) membuat kita bermental “pengharap bahkan peminta “ atau mungkin kita belum banyak bersyukur ..
Ingat uang 600 ribu per bulan tak bisa membayar kerukunan bersaudara, bertetangga dan bermasyarakat, jangan sampai wabah ini berakhir namun gejolak sosial terus berlanjut.Demikan saya usapkan atas perhatiannya.

@AH

Bagikan manfaatnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *