Ancaman Pidana Bagi Pengirim Konten Chatting atau Voice Note Mesum???!!!

Dengan kemajuan Teknologi seperti saat ini, komunikasi saat ini bisa dilakukan media sosial apapun. bahkan untuk komunikasi yang intim saat ini bisa dilakukan melalui media sosial beberapa contoh yaitu video call,chatting atau voice note yang mengarah ke asusila atau mesum, tetapi dengan kemajuan teknologi tersebut banyak beberapa oknum yang menyalahgunakannya dengan melecehkan lawan jenisnya sehingga sangat mengganggu terutama kenyamanan diri dan psikologinya, salah satu contoh yaitu dengan mengirimkan konten video, chating atau voice note asusila atau mesum terhadap lawan jenisnya yang mungkin di sukainya. dengan permasalahan pelecehan yang sering terjadi tersebut yang terjadi terutama kepada kaum perempuan apakah bisa dijerat pidana pelaku pengirimi atau penyebar konten  chat dan voice note asusila atau mesum??




Didalam pasal 1 angka 1 UU No.44 tahun 2008 tentang Pornografi menjelaskan bahwa Pornografi adalah “gambar, sketsa, ilustrasi, foto, tulisan, suara, bunyi, gambar bergerak, animasi, kartun, percakapan, gerak tubuh, atau bentuk pesan lainnya melalui berbagai bentuk media komunikasi dan/atau pertunjukan di muka umum, yang memuat kecabulan atau eksploitasi seksual yang melanggar norma kesusilaan dalam masyarakat”.
“Sehingga melihat penjelasan dan pengetian diatas bahwa bentuk gambar,suara dan bunyi bisa disimpulkan merupakan termasuk dalam pornografi”
Didalam Pasal 4 ayat (1) UU Pornografi undang-undang ini menyatakan bahwa setiap orang dilarang memproduksi, membuat, memperbanyak, menggandakan, menyebarluaskan, menyiarkan, mengimpor, mengekspor, menawarkan, memperjualbelikan, menyewakan, atau menyediakan pornografi yang secara eksplisit memuat antara lain: persenggamaan (termasuk yang menyimpang), kekerasan seksual, masturbasi (onani), ketelanjangan atau tampilan yang mengesankan ketelanjangan, alat kelamin, atau pornografi anak.



Selesainya tindak pidana membuat diletakkan pada adanya objek pornografi yang dihasilkan. Sementara menyebarluaskan, sebagaimana dijelaskan Adami Chazawi dalam buku yang sama (hal. 125) adalah perbuatan dengan bentuk dan cara apapun terhadap suatu benda yang semula keberadaannya tidak tersebar menjadi tersebar secara luas. Keberadaan benda tersebut tersebar di banyak tempat atau di mana-mana atau pada banyak orang (umum). Cara orang menyebarluaskan bias dengan menyerahkan, membagi-bagikan, menghambur-hamburkan, menjualbelikan, menempelkan, mengirimkan, menyiarkan, dan lainnya.




Pasal 6 UU Pornografi kemudian menyebutkan bahwa: “Setiap orang dilarang memperdengarkan, mempertontonkan, memanfaatkan, memiliki, atau menyimpan produk pornografi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (1), kecuali yang diberi kewenangan oleh peraturan perundang-undangan”.
Dalam perbuatan voice note Adami Chazawi menjelaskan, perbuatan memperdengarkan adalah perbuatan dengan cara apapun mengenai sesuatu kepada orang lain agar sesuatu yang diperdengarkan didengar oleh orang lain. Objek yang diperdengarkan adalah yang dapat diterima dengan indra telinga, yaitu suara atau bunyi. Sehingga voice note yang Anda rekam tersebut termasuk kategori dari perbuatan memperdengarkan.



Penjelasan mengenai sanksi pidana yaitu :
Terhadap pelanggaran Pasal 4 ayat (1) UU Pornografi, Anda dan/atau teman Anda dapat dijatuhi pidana penjara paling singkat enam bulan dan paling lama 12 tahun dan/atau pidana denda paling sedikit Rp. 250 juta dan paling banyak Rp6 miliar (Pasal 29 UU Pornografi)
Sementara memperdengarkan, mempertontonkan, memanfaatkan, memiliki, atau menyimpan produk pornografi dapat dikenai pidana penjara paling lama empat tahun dan/atau pidana denda paling banyak Rp. 2 miliar. (Pasal 32 UU Pornografi)
Perihal untuk Voice Note Asusila atau mesum Selain dalam UU Pornografi, pengaturan sanksi atas penyebaran konten pornografi juga dapat ditemukan dalam UU No. 11 Tahun 2008 Tentang Informasi daan Transaksi Eletronik sebagaimana telah diubah dengan UU No. 19 Tahun 2016 Tentang perubahan atas UU No 11 Tahun 2008 Tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU 19/2016), Voice note yang dikirimkan melalui media komunikasi berbasis elektronik tersebut berpotensi melanggar Pasal 27 ayat (1) UU ITE yang berbunyi : “Setiap Orang dengan sengaja dan tanpa hak mendistribusikan dan/atau mentransmisikan dan/atau membuat dapat diaksesnya Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik yang memiliki muatan yang melanggar kesusilaan”.



Dalam Pasal 45 ayat (1) UU 19/2016 menjelaskan, “Sementara setiap orang yang dengan sengaja dan tanpa hak mendistribusikan dan/atau mentransmisikan dan/atau membuat dapat diaksesnya informasi elektronik dan/atau dokumen elektronik yang memiliki muatan yang melanggar kesusilaan dapat dipidana dengan pidana penjara paling lama enam tahun dan/atau denda paling banyak Rp1 miliar”.
Kami sarankan agar Anda dan teman Anda berhati-hati dalam menggunakan berbagai fitur di aplikasi pesan instan seperti video call, Chatting asusila atau voice note. Hal ini semata demi menghindari timbulnya masalah hukum di kemudian hari.



Demikian jawaban kami, semoga bermanfaat.
@AH
Bagikan manfaatnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *